Beranda | Artikel
Masjid al-Haram Tanda Kekuasaan Allah Yang Nyata
Sabtu, 17 September 2016

Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ ﴿الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ﴾ [المائدة: 97]، جَعَلَ أَفْئِدَةَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِ رِجَالاً وَرُكْبَانًا، وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ، أَحْمَدُهُ – سُبْحَانَهُ – وَأَشْكُرُهُ، وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا الثَّبَاتَ عَلَى دِيْنِهِ، وَالنَّجَاةَ يَوْمَ أَنْ نَلْقَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَخَلِيْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ، سَيِّدُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ، وَقَائِدُ الغُرِّ المُحَجَّلِيْنَ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ الطَيِّبِيْنَ الطَاهِرِيْنَ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَرَضِيَ اللهُ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ:

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah sekalian. Sesungguhnya hari-hari itu senantiasa berganti. Dan waktu terus berjalan seiring berpindahnya awan. Yang telah lalu, maka tak mungkin kembali. Masa depan adalah sesuatu yang gaib. Yang kita miliki hanya masa sekarang, yang kita berada di dalamnya.

Bersegeralah untuk bertakwa kepada Allah. berpegang teguhlah dengan tali agama Ilam yang kuat.

﴿فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى﴾

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS:Thaahaa | Ayat: 123).

Ayyuhal muslimun, jamaah haji Baitullah Haram,

Kedatangan jamaah haji adalah pemandangan tahunan dengan aktivitas yang sama. Berganti generasi-generasi dalam beberapa kurun. Waktu-waktu berganti. Orang-orang tetap bertalbiyah dan thawaf. Sa’I dan wukuf. Mabit dan melempar jumrah. Mereka meniru para nabi, Rasulullah Muhammad ﷺ, para khalifah, para raja, para pemimpin, para ulama, dan orang-orang yang tidak bisa dihitung jumlahnya kecuali oleh Allah ﷻ. Mereka semua datang ke tanah Mekah ini. Mereka berharap pahala dan keutamaan di sisi Allah. Mereka menjawab undangan kekasih Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ketika Allah memerintahkannya,

﴿وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ﴾

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS:Al-Hajj | Ayat: 27).
Inilah Kota Mekah, Bakkah, Baitul Haram, yang dibandun untuk beribdah kepada Allah, mentauhidkan-Nya, dan menaati-Nya.

﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ (96) فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا﴾

“Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS:Ali Imran | Ayat: 95-96).

Maha benar Allah ﷻ,

﴿وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا﴾

“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (QS:An-Nisaa | Ayat: 122).

﴿وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا﴾

“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?” (QS:An-Nisaa | Ayat: 87).

Maha benar Allah. di Mekah dan ibadah haji ini terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dan ini adalah tanda yang nyata yang tidak terhapus dan lekang oleh waktu yang panjang. Tidak berubah dengan bergantinya batas-batas. Tanda-tanda kebesaran-Nya yang bisa disaksikan keutamaan dan kesuciannya. Kemuliaannya langgeng sepanjang masa.

Di kota ini terdapat maqam Ibrahim saat hendak meninggikan pondasi Ka’bah. Dan anaknya Rasulullah Ismail membantunya.

﴿وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 127).

Maqam itu adalah tempatnya berpijak. Di tempat yang tanahnya lembek tanpa alas kaki. Sebagai saksi tentang tingginya keikhlasan. Tentang jujurnya seorang hamba menyambut perintah Rabbnya.

Di Mekah terdapat tanda kekuasaan Allah yang begitu jelas. Seperti dalam penunaian ibadah sa’i antara Shafa dan Marwa. Agar manusia merasakan betapa keluarga kecil ini, keluarga Nabi Ibrahim mencurahkan segalanya untuk menaati Allah. Di lembah tandus inilah sang istri bertanya kepada suaminya yang akan pergi meninggalkan ia dan anaknya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu pergi?” Nabi Ibrahim menjawab, “Iya.” “Jika demikian, Dia tidak akan menelantarkan kami.” ucap sang istri.

Sa’i adalah syiar ibadah yang butuh kekuatan, pengorbanan, dan tawakal. Bersandar kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Saat itulah hati Hajar ‘alaihissalam tenggelam dalam tawakal. Kemudian Allah memuliakannya dengan mengutus Jibril yang mengaiskan sayap di bumi. Sehingga muncullah mata air yang menjadi sumber minum mereka. Ia pun bisa menyusui anaknya.

Air itu disebut dengan zamzam. Air yang penuh berkah. Air itu dikonsumsi. Menjadi penyembuh sakit. Zamzam adalah mata air yang tak pernah habis. Sebuah mukjizat yang membuat takjub para ilmuan dan peneliti. Nabi ﷺ bersabda tentang zamzam,

«مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ»

“Air zamzam itu tergantung apa yang dikehendaki orang yang meminumnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Jamaah haji Baitullah al-Haram,

Inilah dia Baitul Haram yang merupakan tanda kekuasaan Allah. Tanda kekuasaan yang Allah jadikan penuh keberkahan. Berkah di bumi. Berkah dalam kehidupan. Berkah dalam makanan dan minuman. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan selainnya bahwasanya Rasulullah Ibrahim ‘alaihissalam datang menemui istri Nabi Ismail ‘alaihissalam. Beliau bertanya,

“مَا طَعَامُكُمْ؟” قَالَتْ: اللَحْمُ، قَالَ: “فَمَا شَرَابُكُمْ؟” قَالَتْ: المَاءُ، قَالَ: “اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي المَاءِ وَاللَّحْمِ”.
قَالَ: “فَهُمَا لَا يَخْلُوْ عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلَّا لَمْ يُوَافِقَاهُ”؛
﴿فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ﴾ [إبراهيم: 37].

“Apa yang kalian makan?” Ia menjawab, “Daging.” Nabi Ibrahim kembali bertanya, “Apa yang kalian minum.” “Air,” jawabnya. Kemudian Nabi Ibrahim berdoa, “Ya Allah berkahilah air dan daging mereka.”
Nabi ﷺ bersabda, “Keduanya (air dan daging), tidak ada seorang pun selain penduduk Mekah yang mengeluh bila yang mereka dapati hanya daging dan air.”

﴿فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ﴾

“maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS:Ibrahim | Ayat: 37).

Jamaah haji Baitullah al-Haram,

Sesungguhnya Mekah yang Allah muliakan menjadi saksi tanda-tanda kekuasaan Allah yang jelas ini. Ayat-ayat yang menjadi gambaran bagi manusia betapa agungnya tujuan penciptaan mereka. Dia menjadikan rumah itu suci dan menjadikannya sebagai tanda-tanda kekuasaannya bagi orang-orang yang memiliki mata hati.

Di dalam Masjid al-Haram juga terdapat tanda kekuasaan Allah. Amalan pertama yang dilakukan oleh jamaah haji adalah thawaf. Di sana terdapat Hajar Aswad. Nabi ﷺ bersabda tentangnya,

«إنَّ مَسْحَ الحَجَرِ الأَسْوَدِ وَالرُكْنَ اليَمَانِيَّ يَحُطَّانِ الخَطَايَا حَطًّا»

“Menyentuh Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menghapus dosa-dosa.” (HR. Ahmad).

Dialah tanda-tanda kekuasaan Allah yang disaksikan oleh Nabi Muhammad ﷺ, Nabi yang mulia, yang penuh hikmah, shiddiq, dan amanah. Seorang nabi yang mempersatukan bukan memecah belah. Nabi yang menyayangi bukan membuat orang menderita. Nabi yang memperbaiki keadaan bukan melakukan kerusakan.

Sesungguhnya kabilah-kabilah Quraisy ketika hendak memugar Ka’bah, setiap kabilah mengambil bagian tertentu. Mereka membangunnya hinga meletakkan sisi-sisinya. Saat hendak meletakkan Hajar Aswad, mereka memperebutkannya demi kedudukan yang lebih mulia dari yang lain. Sampai-sampai mereka bersumpah untuk berperang. Salah seorang yang bijaksana di antara mereka mengatakan, “Solusi dari perselisihan kalian adalah orang yang pertama masuk lewat pintu masjid ini akan memberikan putusan.” Mereka pun mengambil solusi tersebut.

Orang pertama yang masuk ke masjid keesokan harinya adalah Rasulullah ﷺ. Ketika Nabi ﷺ diberitahukan tentang keinginan Quraisy, beliau mengatakan,

«هَلُمَّ إلَيَّ ثوبًا»

“Berikan aku kain.”

Mereka pun memberikan kain itu. Kemudian Nabi ﷺ mengambil bagian Ka’bah itu dan bersabda,

«لَتَأْخُذ كُلُّ قَبِيْلَةٍ بِنَاحِيَةٍ مِنَ الثَّوَبِ»

“Setiap kabilah hendaknya memegang ujung dari kain ini.”

Kemudian mereka mengangkatnya secara bersamaan hingga sampai ke tempatnya. Setelah itu, Nabi ﷺ mengambilnya dan membangunnya.

Inilah ayat-ayat Allah yang dilihat jelas bagi mereka yang menyaksikannya. Atau bagi mereka yang menyentuh dan menciumnya. Inilah tanda adanya seorang Nabi yang penuh rahmat. Sang pemberi kabar gembira dan peringatan. Sang pelita yang menerangi. Beliau ﷺ bersabda,

« نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ »

“Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam.” ( HR. Tirmidzi).

Ath-Thabari mengatakan, “Warna hitam itu memberikan pelajaran bahwa dosa-dosa itu memberi bekas yang kuat pada batu. Dan pengaruhnya terhadap hati lebih kuat lagi”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Orang-orang ateis menolak hadits ini. mereka mengatakan, ‘Bagaimana bisa sebuah batu menjadi hitam karena dosa-dosa orang-orang musyrik. Sedangkan batu itu tidak menjadi putih karena ketaatan ahli tauhid? Saya akan menjawab pertanyaan ini dengan perkataan Ibnu Qutaibah:‘Sesungguhnya Allah menjadikan tabiat hitam itu mewarnai bukan diwarnai. Dan sebaliknya dengan warna putih’.”

Hajar Aswad adalah ayat tanda kekuasaan Allah yang jelas. Namun bukan berarti ia memiliki keberkahan yang khusus. Atau dapat menolak sial dan mendatangkan keberuntungan. Dan orang-orang jangan sampai menzalimi yang lain untuk mencium dan mengusapnya. Sebagaiman kata Umar al-Faruq,

إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak dapat menolak balak dan memberikan keberuntungan. Kalau saja aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, maka aku tidak pula menciummu.”

Nabi ﷺ bersabda kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu,

«إِنَّكَ رَجُلٌ قَوِيٌّ فَلَا تُزَاحِمْ فَتُؤْذِيْ الضَعِيْفَ، إِنْ وَجَدْتَ فُرْجَةً فَاسْتَلِمْهُ، وَإِلَّا فَاسْتَقْبِلْهُ وهَلِّلْ وكَبِّرْ»

“Sesungguhnya engkau adalah seorang laki-laki yang kuat, maka jangan engkau berebut dalam desak-desakkan. Engkau akan menyakiti orang yang lemah. Jika engkau melihat celah, maka usaplah dia. Jika tidak, maka menghadap padanya, bertahlil, dan bertakbirlah.” (HR. Ahmad).

﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ (96) فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ﴾ [آل عمران: 95- 96].

“Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS:Ali Imran | Ayat: 95-96).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، قَدْ قُلْتُ مَا قُلْتُ، إِنْ صَوَابًا فَمِنَ اللهِ، وَإِنْ خَطَأً فَمِنْ نَفْسِي وَمِنَ الشَّيْطَانِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيْئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ، إِنَّ رَبِّي كَانَ غَفُوْرًا رَحِيْمًا.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ.

وَبَعْدُ:

Para jamaah haji Baitullah al-Haram,

Anda telah mendapatkan keluarga dan tiba dengan kemudahan. Ini adalah Mekah ibunya kota-kota. Negeri yang aman. Allah menjadikan penunaian ritual ibadah haji di tempat ini. Anda berda di tempat yang mulia dan waktu yang mulia. Di negeri dua tanah haram yang aman dan tenang. Rendah hati dan saling menghormati.

Waktu-waktu ini adalah syiar tauhid begitu menggema:

لَا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ

“Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Miliknylah kekuasaan dan pujian. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Masa-masa ini adalah masa syiar talbiyah:

لَبَّيْكَ اللهُم لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكُ لاَ شَرِيكَ لَكَ

Ibadallah,

Ibadah haji itu hanyalah thawaf, sa’i, wukuf, mabit, dan melempar. Kemudian ditutup dengan mencukur rambut.
Di antara karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya, Dia menjadikan penyelenggara ibadah ini sepanjang zaman. Tugas-tugas penyelenggaraan haji itu dibagi-bagi di antara kabilah Arab. Ada yang memberikan minum. Ada yang bertugas memberi makan. Dan ada pula yang bertugas melindungi tamu-tamu yang datang. Keadaan ini terus berlangsung hingga berganti generasi dan negara pemerintahan. Sampai akhirnya Allah anugerahkan kepada Kerajaan Arab Saudi yang mengurusi penyelenggaraan ibadah haji. Mereka mendapat kemuliaan seabgai pelayan tanah suci. Mereka memudahkan jamaah haji di saat pagi. Di saat senggang. Dan di saat mereka beraktivitas.

Semoga Allah memberikan keamanan dan ketenangan untuk negeri ini dan juga kepada negeri-negeri kaum muslimin.

Jamaah haji sekalian,

Negeri ini telah mencurahkan daya dan upaya. Berusaha menciptakan suasana aman dan kondusif. Hal itu dilakukan sejak kalian datang hingga kalian pulang insya Allah. Negeri ini bangga bisa membantu kalian.

Negeri ini tidak menambah-nambah manasik haji yang tidak ada tuntunannya. Orang-orang jahiliayh dahulu mereka berada di tempat-tempat haji. Mereka berbangga-bangga dengan kakek-kakek mereka. Namun Allah ﷻ berfirman,

﴿فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 200-201).

هَذَا وَصَلُّوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى خَيْرِ البَرِيَّةِ، وَأَزْكَى البَشَرِيَّةِ: مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَاحِبِ الحَوْضِ وَالشَّفَاعَةِ؛ فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيَّهُ بِكُمْ – أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ -، فَقَالَ – جَلَّ وَعَلَا -: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الوَجْهِ الأَنْوَرِ، وَالجَبِيْنِ الأَزْهَرِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ اَلْأَرْبَعَةِ: أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ صَحَابَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَاخْذُلِ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ وَعِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ.

اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ المَهْمُوْمِيْنَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ، وَنَفِّسْ كَرْبَ المَكْرُوْبِيْنَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ المَدِيْنِيْنَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى المُسْلِمِيْنَ، وَسَلِّمِ الحُجَّاجَ وَالمُسَافِرِيْنَ فِي بَرِّكَ وَجَوِّك وَبَحْرِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنَ الأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَهُ بِطَانَتَهُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانَنَا المُرَابِطِيْنَ فِي الحُدُوْدِ، اَللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا المُرَابِطِيْنَ فِي الحُدُوْدِ، اَللَّهُمَّ كُنْ مَعَهُمْ وَلَا تَكُنْ عَلَيْهِمْ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ وَلَا تَخْذُلْهُمْ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى المُعْتَدِيْنَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ [البقرة: 201].

سُبْحَانَ رَبِّنَا رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Saud asy-Syuraim (Imam dan Khotib Masjid al-Haram)
Tanggal: 23 Dzul Qa’dah 1437 H
Judul asli: al-Masjid al-Haram wal Ayatu al-Bayyinat
Penerjemah: Tim KhotbahJumat.com

Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email

Artikel asli: https://khotbahjumat.com/4242-masjid-al-haram-tanda-kekuasaan-allah-yang-nyata.html